Tampilkan postingan dengan label ori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ori. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2020

Doa 1

DO’A (1)
di tulis kembali oleh: Upang Pattisahusiwa

YA ALLAH
AKU KEMBALI KEKHADIRATMU,
DENGAN RASA SYUKURKU ATAS SEGALA NIKMAT
YANG TELAH ENGKAU BERIKAN PADAKU
DAN PADA KELUARGAKU

.
YA ALLAH
KETIKA AKU DALAM KESULITAN SEPERTI SEKARANG INI,
AKU HANYA BISA BERSERAH DIRI KEPADAMU
DAN AKU HANYA BISA MEMOHON PADAMU.

YA ALLAH
BERILAH AKU KEKUATAN LAHIR DAN BATHIN,
SERTA KETABAHAN DAN KESABARAN
DALAM MENJALANI SEGALA COBAAN- MU INI.

YA ALLAH
BERILAH AKU PETUNJUKMU,
AGAR TIDAK PERNAH LUPA UNTUK MENGINGAT – MU 
DIMANA PUN DAN SA’AT APAPUN.
YA ALLAH
JADIKANLAH AKU DAN KELUARGAKU
SEBAGAI ORANG – ORANG YANG PANDAI MENSYUKURI
ATAS SEGALA NIKMAT YANG TELAH ENGKAU BERIKAN,
SEBAB SEMUA YANG TELAH ENGKAU BERIKAN
ADALAH YANG TERBAIK BAGI KAMI

YA RABBI
DALAM SEGALA KESULITAN YANG SEDANG KAMI HADAPI,
JAUHKANLAH KAMI DARI SEGALA SIFAT KEPUTUSASAAN DAN FRUSTASI,
JAUHKAN PULA DARI SEGALA GODAAN YANG SEKIRANYA HANYA AKAN MENJAUHKAN KAMI DENGAN MU,
DAN JAUHKAN PULA KAMI DARI SEGALA PERASAAN YANG KURANG BAIK
YANG HANYA AKAN MENGANTARKAN KAMI PADA HAL-HAL YANG SESAT DAN BERSIFAT KEMAKSIATAN BELAKA, SEPERTI BERPARASANGKA BURUK, IRIHATI, DENGKI, SOMBONG TINGGI HATI DSB.

YA ALLAH
SEBALIKNYA, DEKATKANLAH KAMI DENGAN ORANG – ORANG DAN SEGALA HAL YANG AKAN MEMBAWA KAMI PADA KEBAIKAN DAN KEMAJUAN SERTA AKAN MAKIN MENDEKATKAN KAMI PADAMU,
JADIKANLAH KAMI ORANG – ORANG YANG JERNIH DALAM PEMIKIRAN DAN PERBUATAN YANG JUJUR, TEKUN, DAN TELITI DALAM MENJALANKAN SEGALA PEKERJAAN.

ALLAHUMMA YA ALLAH
JADIKANLAH KAMI ORANG – ORANG YANG IKHLAS
DAN TIDAK MENGENAL PAMRIH DALAM MENGERJAKAN SEGALA SESUATU.

YA RABBI
PADA HAKIKATNYA SEGALA HIDUP DAN KEBENARAN ITU ADALAH MILIK MU.
ENGKAULAH SANG HIDUP YANG ADA DALAM DIRIKU
MAKA AJARILAH AKU TENTANG HIDUP
DAN KEHIDUPAN YANG SELALU BERMUARA KE ARAH – MU.

UNTUK ITU SEMUA YA ALLAH ------
BEKALILAH KAMI DENGAN ‘ILMU -‘ILMU – MU.

BERILAH AKU PETUNJUK – MU, DAN BIMBINGLAH AKU AGAR AKU DAPAT LEBIH BANYAK MENGENALI DIRIKU, KEMAMPUANKU DAN KAKUATANKU.
YA ALLAH
TETAPKANLAH SEGALA ‘ILMU DAN PENGETAHUAN YANG TELAH ADA DALAM DIRIKU.
BUKAKANLAH PINTU HATI DAN PIKIRANKU UNTUK MENAMBAHNYA LEBIH BANYAK LAGI.
BERILAH AKU PETUNJUKMU YA ALLAH,
KARENA AKU LEBIH BANYAK MEMPELAJARI DAN MENGUASAI ‘ILMU – ‘ILMU YANG SELAMA INI AKU ANGGAP SANGAT BESAR MANFAATNYA SEPERTI ‘ILMU TASAWUF, ILMU MEMAKRIFATKAN DIRI DSB, SERTA LENGKAPKANLAH KAMI DENGAN SEGALA PENGETAHUAN YANG BERSIFAT TEKNIS MOTORIK DAN JUGA ‘ILMU-ILMU KEMASYARAKATAN.

ALLAHUMMA YA ALLAH
JADIKANLAH AKU MANUSIA YANG TEKUN, JUJUR,
DAN SETIA DALAM MEMPELAJARI DAN MENJALANKAN DAN MENERAPKAN ‘ILMU – ‘ILMU MU.

YA ALLAH
BERILAH AKU
CAHAYA KEWIBAWAAN
CAHAYA KEJUJURAN
CAHAYA KETULUSAN
CAHAYA KE IKHLASAN
CAHAYA KESABARAN
CAHAYA KECERDASAN
CAHAYA KEBERUNTUNGAN
CAHAYA KEPEMIMPINAN
ALLAHUMMA YA ALLAH
TURUNKANLAH BERJUTA-JUTA MALAIKAT MU UNTUK MELINDUNGI KAMI SEKELUARGA
DAN TURUNKANLAH UNTUKKU SEBAGIAN DARI ‘ILMU – ‘ILMU - MU,YANG PENUH DENGAN KE AGUNGAN MU
DAN BIMBINGLAH AKU AGAR DALAM DIRIKU BERTAHTA SEMUA SIFAT – SIFAT TERPUJI YANG AKU TELAH KUKETAHUI MAUPUN YANG BELUM AKU KETAHUI YANG TIDAK BISA AKU SEBUTKAN SATU PERSATU.

YA ALLAH, BUKAKANLAH PIKIRANKU SELALU, AGAR AKU SELALU BISA BERSIFAT JERNIH, ‘ILMIAH ‘,TERATUR. DAN ARIF BIJAKSANA.
AKHIRNYA YA ALLAH ---
AKU HANYA BISA BERSERAH DIRI PADA – MU,
DAN MOHON AGAR SEGALA KESABARAN DAPAT BERTAHTA DALAM DIRIKU,
DIRI ISTERIKU ,DIRI ANAKKU DAN KELUARGAKU,
KARENA KESABARAN ADALAH KUNCI ATAS SEGALA SESUATU.

YA ALLAH
KAMI MOHON AMPUN DARI SEKALIAN PERKATAAN KAMI YANG TIDAK SESUAI DENGAN PERBUATAN KAMI.
KAMI MOHON AMPUN DARI SEKALIAN YANG ENGKAU ANJURKAN TETAPI KAMI TIDAK MENJALANKANNYA.
KAMI MOHON AMPUN DARI SEKALIAN ILMU DAN AMAL YANG SEMULA DIMAKSUD KARENA ENGKAU, TAPI KEMUDIAN TERCAMPUR DENGAN MAKSUD YANG LAIN.
KAMI MOHON AMPUN DARI SEKALIAN NIKMAT YANG ENGKAU BERIKAN PADA KAMI KEMUDIAN KAMI GUNAKAN UNTUK MAKSIAT
YA ALLAH ………. RIDHAILAH LANGKAH –LANGKAHKU UNTUK MENUJU -
JALAN – MU. ……
AMIN. (Dari Doa istriku )

PIKA MESE-MESE

PIKA MESE-MESE


Mae lolooko ipika mese-mese…
(terjemahan bebasnya berarti mari kita bergandeng tangan erat-erat)

Sepenggal kalimat diatas yang mengawali tulisan ini,mungkin bisa kita sebut sebagai “jingle” nya orang SSI (iko Sissodiddo). Kalimat ini mengandung suatu ajakan yang bersifat menyemangati bagi pihak lain untuk membentuk suatu formasi berdiri bersama dengan bergandeng tangan dan saling mempertautkan sikunya erat-erat, sehingga jalinan bergandeng tangan itu menjadi sangat kuat dan sulit ditembus bagaikan pagar betis. Bergandeng tangan artinya juga membentuk ikatan atau penyatuan kekuatan dalam kebersamaan. Ibarat sapu lidi (sasalatolo) yang terdiri dari beberapa batang lidi dan diikat menjadi satu, akan mempunyai manfaat dan kekuatan untuk menyapu, lain hal nya bila lidi-lidi itu terlepas dari ikatannya, satu batang lidi tidak akan mempunyai kekuatan untuk menyapu,kalaupun kita paksakan kemungkinan besar akan patah.

Bergandeng tangan bisa dimaknai sebagai membentuk keakraban,tanpa membedakan siapa aku dan siapa dirimu, tidak memandang status,pangkat, maupun kedudukan. Siapa saja yang berada di samping kita, raih tangannya kemudian pegang dan gandeng dengan erat, demikian terus menerus membentuk suatu rantai yang panjang….

Orang yang sedang saling bermusuhan biasanya sulit untuk bersedia bergandeng tangan, karena itu supaya bisa bergandeng tangan dengan erat dengan suasana suka cita tentu kita harus menanggalkan semua penyakit hati seperti irihati,dengki,benci ,dendam dll, supaya bisa saling menghargai,menghormati,dan memahami sehingga yang ada hanyalah sukaria,keakraban,dan kehangatan dalam kebersamaan.

Dalam konteks kekinian karena kendala lokasi dan waktu mungkin sulit untuk selalu bermakna secara harfiah seperti itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman menuntut kehidupan dengan mobilitas yang tinggi, sehingga arus migrasi tak bisa dihindari. Banyak sanak saudara yang karena tuntutan kehidupannya sehingga berpencar jauh di rantau,dan beberapa kendala menjadikan mereka yang telah “hijrah” ini tidak bisa selalu mudik secara periodik. Alhasil kemungkinan sesama saudara menjadi saling tidak mengenal lagi.

Itulah yang diupayakan untuk tidak terjadi, meskipun hidup jauh di rantau orang, tanah kelahiran tetap bersemayam di hati, dan manakala “bertemu” dengan sanak saudara sekampung itu akan menjadi suatu kebahagiaan tersendiri yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, bagaikan menemukan sebuah oase di tengah gurun, merasa menemukan keteduhan ditengah kegersangan…

Zaman terus berkembang dan berkat kemajuan teknologi dan informasi kini jarak bukan lagi menjadi penghalang untuk berhubungan. Surat,telephone, sms, dan internet,merupakan sarana yang mampu memperpendek jarak, sehingga kita bisa tetap saling berkomunikasi meskipun berada pada lokasi yang berjauhan. Hubungan persaudaraan bisa tetap terpelihara meskipun terpisahkan jarak ribuan mil.

ipika mese-mese…
menjadi “jingle” yang akan selalu mengingatkan kita supaya tidak lupa pada upaya untuk terus memelihara jalinan tali silaturahmi,
karena pada hakekatnya ipika mese-mese …adalah ajaran yang mengarah pada usaha-usaha dalam membentuk, memelihara dan mempertahankan tali silaturahmi, agar jangan pernah terputus dan bercerai berai, karena di dalamnya mengandung hikmah dan makna yang sangat besar.Bisa menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa-dosa, menjadikan sebab tercurahnya Rahmat Allah kepada kita, menjadikan sebab keberkahan rizki , sehat, dan panjang usia,dsb.dsb

Silaturahmi bersifat mutlak dan umum,dapat dilakukan dengan “apa” dan “bagaimana” saja karena tidak terikat oleh cara dan waktu tertentu dan juga tidak disertai dengan maksud-maksud tertentu. Artinya selalu membuat dan memelihara hubungan baik setiap hari bahkan setiap saat dengan siapapun ,kapanpun dan dimanapun.
Silaturahmi tidak terbatas hanya di hari raya, dan bukan sekedar bersalam salaman,atau kirim parcel apalagi bila dilandasi dengan maksud-maksud tertentu untuk memperoleh suatu keuntungan (istilah ngetrendnya sekarang silaturahmi politik).

Silaturahmi dalam makna harfiahnya adalah “menyambungkan kekeluargaan”, dalam makna yang lebih luas pengertian kekeluargaan ini bukan saja hubungan sekeluarga sekandung atau kerabat dekat satu keturunan, tapi bisa lebih luas, menjadi sekampung, sedaerah, se profesi, dan senegara.


itulah sebabnya sehingga orang tua-tua selalu berpesan pada kita untuk selalu “Mae lolooko ipika mese-mese…” hidup rukun dan damai supaya tidak putus hubungan dengan sanak saudara.
Memelihara silaturahmi artinya membina hubungan baik dengan kerabat,sanak keluarga,tetangga,handai taulan, dan siapa saja sehingga membentuk suatu ukhuwah,bukan saja ukhuwah Islamiah melainkan juga ukhuwah secara universal dengan siapa saja tanpa memandang pangkat,martabat dan agama.
Setiap nasehat dari orang tua-tua sungguh tidak pernah sia-sia, pasti selalu terkandung maksud baik dan demi kemudahan hidup bagi anak-anaknya.

pika mese-mese…
adalah suatu konsep hidup, jika selalu diingat dan dilaksanakan jaminannya adalah kemuliaan.
Rante pika-pika pande sei pika, Upu pikalouhata ile pande ipika, Pika lolooko iuna isai, Mae kaa dima sane tua sane
Mae lolooko ipika mese-mese…


Bandung, 06 Januari 2008
Upang Pattisahusiwa

Sahoa

Masih tentang Osahoa,Misahoa......

Salut ada yang mampu mengangkat masalah ini kepermukaan, mungkin memang kita perlu “menggugat”kebiasaan yang kita pandang memiliki effek negatif ini.
Kita memang tidak dapat mengubah suatu kebiasaan yang telah sedemikian lama terpateri dan membudaya, namun kita bisa memulai kebiasaan baru untuk merevisi kebiasaan lama agar menjadi lebih baik dan dapat menjadi suatu system yang dengan sendirinya kelak dapat memajukan kuamanno. Apa yang telah terpateri dalam budaya lama, biarlah berlalu bersama berputarnya zaman. Budaya baru bisa diawali dari diri sendiri (iko aisako, kukeluarga, tua kuanao).

“Mudah mengungguli seorang pendahulu, tetapi tidak mudah diungguli oleh seorang pengganti”(Eiji Yoshikawa,Musashi,Gramedia 1985). Sepertinya begitulah sifat dasar setiap orang, menggebu, bersemangat dan optimis untuk mencapai sesuatu. dan Setiap posisi tertinggi yang telah mampu diraihnya dan dirasa cukup nyaman ingin rasanya bisa langgeng, sebisa mungkin tidak ingin melepaskannya untuk dilanjutkan oleh seorang pengganti, bahkan bila memungkinkan ingin menikmatinya seumur hidup, seolah-olah lupa pada kenyataan bahwa bumi ini berputar, umur manusia berjalan terus seiring berlalunya jaman…

Osahoa,misahoa…
mungkin bisa diterjemahkan sebagai bentuk “ketidakrelaan” setiap orang untuk diungguli oleh seorang pengganti. ketidak relaan itu terbungkus rapi dan dikemas dalam satu kebiasaan turun temurun sehingga mentradisi membentuk suatu budaya feodal yang seolah-olah kalau dijalankan menjadi tabu / pamali (jawa:ora elok), padahal secara nyata bahwa yang demikian itu sungguh tidak mempunyai effek membangun sama sekali, yang terjadi justru sebaliknya dapat membunuh imaginasi,dan mematikan berbagai inovasi dan kreatifitas yang sedang tumbuh dalam semangat kaum muda.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menyemangati setiap ide dan gagasan yang muncul, karena dalam setiap gagasan sesungguhnya sudah disertai dengan perangkat untuk pencapaiannya. Bila gagasan cemerlang muncul dari kalangan muda, tentu kita berharap dari kalangan tua cukup memberikan semangat dan doa restu saja, karena yang dibutuhkan oleh orang muda sebenarnya “hanya” itu. Tapi bila kalangan tua terjebak menjadi kurang bijak karena terkesan menyepelekan dan merendahkan setiap gagasan, tidak mustahil akan menimbulkan pesimistis dikalangan muda. Kaum muda merasa tidak perlu melakukan sesuatu karena semuanya seolah dianggap tidak penting. Demikian akan berlangsung terus menjadi tradisi turun temurun, hanya itupa iinu kopi tua ihetu ku kewel tua imuwoooo…na laaaa…..dan hanya bisa membanggakan kejayaan masa lalu tanpa mencoba membuat sesuatu yang bisa untuk dibanggakan di masa depan.

Bandung, Desember 2007
Upang Pattisahusiwa[/size]

Dari Pulakauwoni

Dari Pulakauwoni

Beberapa Sissodido berjalan beriringan menuruni Pulakauwoni menuju ke arah Huwanai masing-masing membawa “hahalanno “(pikulan) yang berisi muatan penuh dan cukup berat. Apa gerangan isinya, yang pasti tentunya perolehan dari hasil hutan yang baru di dapat dari dusunnya. Entah hasil hutan apa yang baru dipanen, kelihatannya sesuatu yang bukan tergantung pada sasi.
Semangat berjalan mereka menunjukkan rasa bangga yang membusung di dada karena bawaannya pastilah sangat dinanti dan dielu-elukan banyak orang, dan ia akan merasa lega dan bisa berpuas diri karena dalam bayangannya telah ikut berperan sebagai orang yang berjasa mengusung sesuatu yang bermanfaat bagi negerinya.
Beberapa mata tertuju ke arah mereka dengan rasa penasaran karena ingin tahu barang apa sesungguhnya yang ada di dalam pikulan mereka karena tidak terdeteksi dari kejauhan, namun tidak sedikit yang cuek beibeh tidak memberikan perhatian karena menurut anggapannya apapun barang bawaan mereka pastilah bukan hal baru yang akan membuatnya tercengang.
Perjalanan mereka sebenarnya cukup menguras tenaga karena medan yang dilalui jalannya berliku, naik turun dan terjal. Tapi medan tempuh yang demikian rupanya tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berjalan. Semangat pengabdian, semangat perjuangan, semangat pantang menyerah dan mungkin juga semangat yang muncul dengan sendirinya karena setiap ada orang yang memandangnya dengan takjub berarti spirit tersendiri baginya karena hal itu akan memacunya untuk terus melangkah menempuh perjalanan yang bagaimanapun keadaanya.
Setelah singgah sebentar di Huwanai mereka kembali meneruskan perjalanan menuju Sadewa. Agak mengherankan sebenarnya mengapa mereka menempuh perjalanan berkeliling melewati dusun-dusun yang jauh, padahal banyak jalan pintas kalau memang hendak langsung pulang. Mungkin karena ada keperluan ini dan itu yang lain atau sekedar melihat keadaan disana, atau mungkin juga mereka sedang menerapkan pepatah “ sekali dayung dua atau tiga pulau terlampaui” namun dalam konteks di daratan sehingga menjadi “sekali berjalan dua atau tiga dusun terlewati…. “.
Belum sampai di kampung, namun pada jarak yang relatif makin dekat mulai terlihat apa isi pikulan mereka, karena penasaran orang semakin berkerumun untuk melihat lebih dekat isi bawaan mereka.
O..la..la….
Apa gerangan isi pikulan mereka? Tak sulit untuk ditebak, jauh-jauh dari Pulakawoni tentunya barang bawaan mereka ya hasil terbesar dari dusun itu, yang tak lain dan tak bukan adalah lahuwollo yang berasal dari pohon nawallo alias gamutu ! (orang Jakarta bilang jadinya ga’ mutu ‘kalee…..)***Just Kidding***

Wassalam
Upang Pattisahusiwa

Trah

TRAH

Trah atau sil-silah keturunan kini sedang ngetrend hampir di semua lapisan masyarakat, seolah-olah kini orang baru "sadar" perlunya menjalin tali silaturahmi dan untuk itu mulai tumbuh semangat untuk menyelusuri "pohon" keturunanannya.
Ini budaya baru yang semakin marak untuk mengisi acara mudik lebaran. Awalnya mungkin memang sengaja "memberdayakan"mudik secara lebih organisatoris dan terkoordinasi. Akhirnya makin kokohlah upaya untuk melestarikan mudik lebaran karena pentingnya acara kumpul basudara dalam arti yang sebenarnya.

Jembatan (sebuah tanggapan)

Jembatan (sebuah tanggapan)

Assalamu”alaikum …
Saya mencoba menanggapi tulisan saudaraku Fahmi Salatalohy. Tulisan yang begini akan bikin rame forum dalam pengertian positif, berbagai opini diharapkan dapat tertuang semua di forum. Semoga saja bisa menjadi masukan bagi pihak yang berwenang maupun pihak yang berkepentingan. Semoga apapun yang tertuang tidak diterjemahkan sebagai suka atau tidak suka, melainkan sekedar polemik pada tulisan saja.

Ibarat pepatah mengatakan “rambut sama hitam tetapi pikiran pasti berbeda-beda”, artinya dalam memandang segala sesuatu setiap orang pasti akan berbeda-beda out putnya, itu karena dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kacamata (termasuk yang tidak pakai kacamata sekalipun), sudut pandang (bisa antara 0 – 360 derajat), dan lokasi serta ketinggian posisi kita saat memandang.

Saya misalkan seseorang yang berdiri di atas permukaan tanah hanya akan mampu memandang dalam radius beberapa meter saja sesuai ketinggiannya, kalau berada dipuncak menara atau tower maka radius jarak pandangpun makin jauh,lebih-lebih lagi kalau kita naik ke atas gunung yang tinggi, dengan sendirinya jangkauan pandangan kita pun makin luas radiusnya, apalagi kalau kita mampu berada pada posisi melebihi tingginya gunung yang tertinggi, umpamanya dari udara atau melalui satelit, maka jangkauan pandangan kitapun akan jauh lebih luas lagi.

Pada hakekatnya cara pandang kita tidak semata-mata dipengaruhi oleh tinggi rendah posisi secara harfiah saja, kita harus mampu memaknainya lebih dari itu artinya tingkat pendidikan, pemahaman, dan pengalaman sangat dominan ikut berpengaruh.

Satu konsep lagi yang kita tidak boleh lupa adalah bahwa “segala sesuatu yang terjadi tidak pernah luput dari pandangan Allah swt”.
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 64:11).

Kalau kita tidak melihat sesuatu manfaat atau kegunaan atas segala sesuatu, kemungkinan besar adalah karena kita belum mempunyai tingkat pemahaman untuk ke arah itu. Makanya kita dianjurkan  untuk selalu berprasangka baik saja, mengingat apa yang kita pikirkan berarti itulah harapan.
“Innadzanna fainnadz dzanna aqdabul hadits “Sesungguhnya baik sangka itu dosa dalam perkataan” (al-Hadits)

Setelah kita menentukan seorang pemimpin hasil pilihan kita sendiri, semestinya kita mendukungnya dengan memberikan kepercayaan seluas-luasnya dengan rasa cinta, menghormati keputusannya, dan senantiasa mendoakannya. Karena pemimpin yang baik adalah yang mencintai dan dicintai oleh rakyatnya serta selalu mendoakan dan didoakan oleh rakyatnya.

Dalam skala nasional, yang terjadi justru sebaliknya. Situasi menjadi lebih amburadul Mungkin memang sekarang ini sedang jamannya, karena makin banyak orang yang merasa lebih pandai sehingga makin banyak pula orang yang pandai mengkritisi kebijakan pemimpin yang sedang berkuasa, seolah-olah semua yang dilakukannya tidak ada yang benar, sehingga perlu dikritisi, diawasi, dan dicurigai secara terus menerus. Kita nyaris tidak pernah mencoba menerapkan perasaan “emphaty” ketika sedang bertindak demikian. Lalu dimana tenggang rasa untuk saling mencintai, saling mempercayai, dan saling menghormati serta saling mendoakan?

Alangkah indahnya kalau Amanno jadi negeri impian yang mampu menjadi potret pemerintahan Islami dan ideal, sebagaimana yang dicontohkan dalam pemerintahan Rasulullah.
Modal utama sebenarnya sudah nyata, karena semua penduduk negeri adalah muslim, jadi setidaknya sudah satu fisi, dan banyak warga Sissodi yang berpendidikan tinggi, dan berhasil menjadi pemimpin di rantau (baca: “Profile Tokoh SSI” tulisan Dino Pattisahusiwa-red) artinya negeri sudah sangat terbuka dan akses luas terhadap kemajuan dari “dunia luar” dalam berbagai bidang termasuk budaya,pendidikan,teknologi & informasi.
Mungkin Kekurangannya…… “hanya” masalah persatuan dan kesatuan sesama iko Sissodido!! dengan menggunakan perumpamaan sasalatolo sebagai gambaran sebuah persatuan dan kesatuan (baca: pika mese-mese-red), dalam prakteknya “konsep sasalatolo” ini tampaknya belum “membumi” di iko Sissodido.

Kembali ke masalah jembatan……..
Beta rasa seng ada yang salah deng jambatang itu……. (haa…haa…..ha…..), soal materialnya dari kayu kek, dari beton bertulang kek, atau mungkin ada teknologi tercanggih lai beta seng tahu, yang jelas namanya tetap jambatang tho????
Fungsinya juga seng jauh-jauh sekedar untuk memudahkan katorang naik turun kapal tanpa harus buka alas kaki dan gulung calana, atau katong seng parlu lai gendong dorang karena khawatir basah (kalau seng ada hati angka antua lalu banting akang ka dalang air biar basah sekalian….sioooo…..)
Jadi ya…….bersyukur sekali daripada katong turun di Manuhua?.

Pada umumnya konsep pembangunan mencakup segala bidang,
meliputi fisik maupun non fisik, tapi dalam pelaksanaannya biasanya menggunakan skala prioritas,bagian mana yang paling menyentuh langsung kepentingan masyarakat banyak, dan mana yang berfungsi memicu pertumbuhan. Biasanya sektor yang mampu berfungsi untuk memicu pertumbuhan akan masuk standar prioritas.
Jembatan ini misalnya,termasuk pembanguan infrastruktur yang tentunya diharapkan mampu memicu mobilitas warga menjadi lebih tinggi dan merupakan fasilitas untuk akses keluar yang lebih cepat, effeknya diharapkan mampu menumbuhkan perekonomian setempat menjadi lebih mapan, dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan tarap pendidikan dan pengetahuan masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Anggap saja Jembatan kayu ini adalah proyek uji coba, kalau ternyata manfaatnya luar biasa dan melebihi dari harapan semula, tidak menutup kemungkinan suatu saat kelak Insya Allah dapat ditingkatkan kelasnya. Semoga……..

Atau……ke amaone……tumatao jaiyoooo?.


Wassalam
Upang Pattisahusiwa

Bahaya

“Bahaya”

Setiap pendapat dari siapapun datangnya pastilah ada terkandung nilai kebenaran di dalamnya, meskipun mungkin sangat sedikit dan tidak kasat mata oleh pandangan kita sekalipun kita telah berusaha melihatnya dari berbagai sudut manapun. Karena itu semestinya kita tidak boleh menjustifikasi pendapat orang lain “hanya” dengan menggunakan standar ukuran diri kita sendiri.
Menjustifikasi pendapat orang lain bagaimanapun bentuknya bisa dikategorikan tidak etis, meskipun tindakan itu sendiri sebenarnya lebih mengarah pada kekurangpahamannya sendiri terhadap suatu pengetahuan yang mungkin belum diketahuinya.
Tapi begitulah yang sering terjadi, orang lebih sering menjadi bersikap defensive atau melindungi diri berlebihan dengan cara mencerca, menghujat, menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain, dan menyalah-nyalahkan atau sekedar men-just pendapat orang lain begini atau begitu dengan konotasi yang merendahkan dengan maksud terselubung rapi untuk sebisa mungkin “menjatuhkan” lawan bicara agar posisi dirinya menjadi lebih tinggi.
Sesungguhnya untuk menjadikan diri kita menjadi lebih tinggi tidak perlu dengan cara merendahkan orang lain. Kalau memang ingin membuat diri kita menjadi lebih tinggi dari orang lain banyak cara yang lebih elegan, daripada menyuruh orang lain untuk jongkok atau bahkan tiarap, misalnya saja dengan berdiri di atas pijakan yang lebih tinggi dari orang lain, naik di atas tutuotolo misalnya, atau kalau kurang tinggi bisa naik ke atas meja, ataupun menara mesjid, atau apa sajalah yang sekiranya bisa membuat posisi kita dianggap berada lebih tinggi dari orang lain dan dengan begitu pandangan kitapun radiusnya makin luas. Kalau posisi demikian dianggap statis dan kurang “mobile” boleh juga untuk selalu menggunakan sepatu bertumit tinggi atau iyoi tua tomollo naik “eggrang” (sejenis mainan untuk berjalan menggunakan dua batang bambu panjang yang diberi pijakan kaki pada jarak setengah meter dari bagian bawah -red)
Justifikasi suatu pendapat dengan istilah “logika yang membahayakan” terkandung maksud tersembunyi untuk mengucilkan atau mengkerdilkan seseorang supaya kebesaran dirinya muncul dan mencuat kepermukaan Kalaupun tidak demikian, sekurang-kurangnya sekedar memancing “emosi dan nafsu untuk menjawab” dengan tingkat defensive yang tinggi ???
Istilah “berbahaya” yang ditujukan untuk memvonis pikiran seseorang bisa lebih membahayakan dari  bahaya itu sendiri. Karena istilah bahaya lebih berkonotasi sebagai sesuatu yang “mengancam” bagi pihak lain, dan yang seperti itu tentu saja sangat perlu untuk dihindari jauh-jauh bagaikan sejenis virus yang mematikan. Jadi ada terkandung unsur provokasi di dalamnya, padahal istilah berbahaya yang dimaksud mungkin hanya bermakna sempit menurut dirinya sendiri saja.
Apakah setiap pendapat yang berbeda atau bertentangan dengan pendapat kita bisa dengan ringannya disebut berbahaya? Jika demikian lantas apa bedanya logika berfikir yang seperti itu dengan gaya orde baru yang mempopulerkan kata “subversive” bagi orang2 yang mempunyai pikiran berbeda dengan jalur politik orba? Apakah itu termasuk kategori pembunuhan kaeakter? entahlah...
Sepertinya kita semua perlu terus belajar bagaimana menghormati orang lain dengan cara menjadikan diri kita pantas dihormati*****

Bandung, Des 2009
Upang Pattisahusiwa

Idea...

Louwe zakat


Pengantar:

Di bawah ini adalah rumusan gagasan yang berusaha kami dokumentasikan, sementara menunggu pihak-pihak yang setuju, sependapat, seidea, seiya dan sekata,bisa bekerjasama serta mendukung penuh upaya-upaya untuk merealisasikannya bagi tujuan kesejahteraan kita bersama.
untuk itu, besar harapan kami, siapapun anda yang pro maupun yang kontra dengan perihal tersebut di bawah ini, sangat kami nantikan komentarnya baik tertulis di blog ini maupun via telp, sms, email,atau langsung kopdar (copy darat-red) dengan kami.
terimakasih tak terhingga atas perhatian yang telah anda berikan dengan meluangkan waktu mengunjungi blog kami Namaullo.
Wassalam
Upang Pattisahusiwa

LOUWE ZAKAT IKASSI JABARBATA
(kumpul zakat dari Ikatan Keluarga Siri-sori Islam Jawa Barat, Banten & Jakarta)


PENDAHULUAN :

Ikassi diharapkan menjadi satu-satunya wadah organisasi bagi masyarakat Siri Sori Islam, dengan pusatnya yang berkedudukan di Ambon sudah barang tentu tidak dapat mengakomodir kebutuhan dan kepentingan warganya yang tersebar secara acak di seluruh penjuru nusantara ini dan bahkan yang di manca negara. Para warga dirantau membutuhkan wadah tersendiri yang mampu mengakomodir kebutuhan dan kepentingannya dalam jarak yang terjangkau, untuk itu tumbuh paguyuban2 serupa hampir di setiap wilayah, dengan berbagai nama.

Namun seiring dengan pembaharuan di tubuh organisasi pusat yaitu Ikassi yang mengubah oroientasi dari paguyuban menjadi organisasi modern yang diharapkan menjadi satu-satunya wadah bagi Sissodi, maka paguyuban dan organisasi yang ada di berbagai wilayah di luar Ambon dengan sendirinya secara otamaticaly “menginduk” pada pusat dan sifatnya hanya canbang saja. dengan tidak melepaskan diri dari hal-hal yang telah ditetapkan secara organisatoris oleh induk organisasi Ikassi pusat yang berkedudukan di Ambon dan telah dikukuhkan di Amanno beberapa waktu yang lalu.

Bagi warga di rantau yang tinggal dan berdomisili di kota-kota lain yang jauh dari Ambon dan membentuk paguyuban tersendiri dimungkinkan sifatnya ” hanya” cabang saja,

Masyarakat Siri Sori Islam perantauan dalam satu kota jumlahnya kadang terlalu sedikit untuk membentuk suatu organisasi tersendiri, untuk itu diperlukan penggabungan beberapa kota atau wilayah demi mencapai jumlah anggota yang memadai untuk membentuk suatu kelompok paguyuban, sehingga wilayah cakupan organisasinyapun menjadi lebih luas lintas kota dan mungkin sampai lintas propinsi. Demikian juga untuk warga yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Banten, Bandung, Sumedang, Tasik Malaya, Ciamis, Cirebon,dan sekitarnya digabung dan disatukan dalam IKATAN KELUARGA SIRI SORI ISLAM JAWA BARAT, BANTEN, DAN JAKARTA yang selanjutnya disingkat menjadi IKASSI JABARBATA.

DASAR PEMIKIRAN

Seiring dengan konsep Ikassi Pusat yang mulai berubah dari suatu paguyuban menjadi organisasi modern, demikian juga cabang-cabangnya yang tersebar di wilayah manapun sangat diharapkan mampu menjadi wadah dan jembatan strategis yang bermanfaat bagi kesejahteraan warga pada umumnya.

Demikian pula Ikassi Jabarbata, dibentuk dan dirikan dengan maksud bisa menjadi ajang kumpul basudarao yang memiliki program kerja strategis dan bermanfaat sekurang-kurangnya untuk intern warga Siri Sori Islam yang berada di wilayah kerja organisasi ini yaitu Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.

RUMUSAN MASALAH

Beberapa permasalahan atau persoalan yang dominan muncul di seputar dunia Pendidikan di sekitar kita adalah karena biasanya lulusan sekolah menengah (SMA) umumnya masih bingung menentukan arah untuk menentukan arah selanjutnya, seperti jurusan, jenis sekolah dan lokasi sekolah yang akan dituju. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bagi yang berada di kampung pertama-tama yang jelas harus “keluar” atau meninggalkan Amanno. Bagi yang ada di luar Amanno, mungkin juga memerlukan “migrasi” antar kota.
Kebingungan menentukan tujuan akan menyergap bila arahnya belum pasti, terutama bila dalam keluarganya belum ada yang menempuh jalur sesuai dengan tujuannya. Pertanyaan tentang kemana, di tempat siapa, bagaimana… dsb bisa dipastikan akan sangat mendominasi pemikiran seorang perantau pemula.

Dalam hal ini diharapkan Ikassi Jabarbata mampu mengambil peran dalam menjawab kebutuhan warga yang seperti ini, dengan cara memberikan bimbingan dan penyuluhan serta informasi sedetail-detailnya, lebih bagus lagi disertai dengan tips sukses dari para senior yang sudah sukses, siapa tahu kisah anda bisa menjadi inspirasi bagi mereka.

Hal lainnya yang kemungkinan bisa dilakukan adalah dengan memberikan Beasiswa untuk warga dan anak cucu Siri Sori Islam yang akan melanjutkan pendidikan namun secara finansial keluarganya kurang mampu.
Ini adalah hal yang harus diperjuangkan, karena anak-anak adalah generasi penerus yang tentunya diharapkan bisa menjadi lebih baik dari pendahulunya.
Program lain di bidang pendidikan selain pemberian beasiswa yang juga bisa dilakukan dari pengelolaan dana zakat ini adalah pemberian Kredit Mahasiswa yaitu kredit lunak bagi mahasiswa yang baru masuk perguruan tinggi, atau yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, atau yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Tatacara dan Sistem pengembaliannya berlaku sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan. Prinsip yang terpenting adalah konsepnya lunak, ringan, kalau memungkinkan pengembaliannya setelah yang bersangkutan bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

Di bidang ekonomi, bagi warga yang secara finansial kurang beruntung, masalah biaya hidup di rantau dan biaya pendidikan anak-anaknya akan menjadi masalah yang serius. Apalagi situasi yang kurang menguntungkan di masa sekarang ini dimana harga-harga terus merangkak naik sedangkan pendapatan tetap, sebagian malah harus kehilangan pekerjaan dan penghasilan karena sesuatu dan lain hal. Situasi ini menyebabkan yang tadinya tidak miskin menjadi miskin, dan yang tadinya sudah miskin, makin berada jauh di bawah garis kemiskinan.

Bila situasi ini berlanjut terus secara berlarut-larut dan menjadi alasan tidak mampunya satu generasi kita menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bisa kita bayangkan bagaimana situasi dan kondisi warga kita pada beberapa periode ke depan khususnya yang berada di wilayah Jabarbata.

Dalam konteks untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga dengan pemberdayaan perekonomian warga yang potensial dan memiliki bakat dan minat di bidang usaha, namun terganjal oleh ketiadaan modal.

Pinjaman modal dengan system kredit lunak bisa menjadi alternatif dalam menjawab persoalan di atas, yang diharapkan tentu saja tidak sama dengan system yang berlaku pada bank-bank konfensional, artinya tidak melalui prosedur yang terlalu rumit, dan system pengembaliannya kalau bisa tanpa bunga,namun pembayaran zakat diharapkan disalurkan penuh melalui wadah organisasi ini.

TUJUAN

Beberapa persoalan di atas adalah tanggung jawab bagi kita warga Sissodi khususnya yang berada di wilayah Jabarbata, sekaligus kita berupaya menterjemahkan nasehat para orang tua untuk menggandeng siapapun saudara kita agar bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam konsep ipika mese-mese.

RENCANA PROGRAM KERJA:
sebagai tindak lanjut dalam menyikapi masalah-masalah di atas disusunlah garis besar rancangan program kerja sebagai berikut:

A. LOUWE ZAKAT IKASSI JABARBATA:
1.MENGGALANG PENGUMPULAN DANA ZAKAT PROFESI SISSODIDO DI WILAYAH JABARBATA
2.MENDATA DAN MERANCANG SISTEM PENYALURAN DANA ZAKAT TERKUMPUL KEPADA SISSODIDO DI WILAYAH JABARBATA YANG BERHAK DAN LAYAK MENERIMA BANTUAN (sesuai kriteria yang telah ditetapkan)
3.MENJALANKAN PROGRAM PENYALURAN DANA SESUAI DENGAN YANG TELAH DICANANGKAN

B. PENYALURAN DI BIDANG EKONOMI
1.MERANCANG & MEMBUAT PROGRAM CERDAS PENYALURAN DANA BANTUAN ( konsepnya memberi kail bukan memberi ikan) dengan tujuan untuk perbaikan dan meningkatkan taraf hidup warga denagn cara memberdayakan perekonomian. Bisa berupa bantuan modal atau dalam bentuk simpan pinjam dengan ketentuan besaran dan tata cara yang telah ditetapkan)
2.-

C. PENYALURAN DI BIDANG PENDIDIKAN

1.BEASISWA bagi anak-anak warga Sissodo di wilayah Jabarbata (berlaku untuk semua tingkatan sekolah) tatacara dan besarannya sesuai kriteria yang telah ditetapkan.
2.KREDIT MAHASISWA bagi Sissodido dan keluarganya di wilayah Jabarbata dan atau perantau pemula di wilayah Jabarbata. Besaran dan system pengembaliannya berlaku sesuai kententuan berlaku.


D. PENYALURAN DI BIDANG SOSIAL DAN KEMASYARAKATAN

1.MENJADI JEMBATAN STRATEGIS artinya sebagai pusat informasi dan bantuan bagi warga perantau baru atau pemula baik untuk tujuan bekerja maupun keperluan sekolah di wilayah Jabarbata (bagi warga yang hendak bekerja atau yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dalam prakteknya bisa termasuk membantu memfasilitasi tempat tinggal sementara bagi yang memerlukan dan layak menerimanya) tata cara berlaku sesuai ketentuan.

2.Alokasi dana dalam jumlah tertentu untuk keperluan sosial kemasyarakatan, seperti sumbangan pada acara Louwe basudarao pada acara pernikahan, dan bila ada yang meninggal,dsb.

PENUTUP

Terimakasih yang sedalam-dalamnya bagi anda yang telah meluangkan waktu untuk mempelajari pemaparan gagasan kami ini. Setelah memahami semua yang terkandung baik yang tersurat maupun yang tersirat dari uraian di atas besar harapan, akan mengalir “hidayah” sehingga dengan semangat keikhlasan bisa lebih bersungguh-sungguh secara bersama-sama gotong-royong mewujudkan “mimpi” untuk membangun sesama.
Insya Allah


Wassalam,
Bandung, Oktober 2008
Usman Pattisahusiwa

SARAN & KRITIK:

Berbagai dukungan dalam bentuk saran dan kritik dari manapun datangnya sangat diharapkan sebagai masukan untuk menentukan langkah selanjutnya.

sms berantai2

SMS berantai...(2)

Semalam saya menerima sms, ada basudara yang “kebingungan”lantaran menerima sebuah sms dari nomor tak dikenal. Setelah saya baca,ternyata isinya sejenis sms rantai bahagia (sms RB) ataupun Email rantai bahagia (Email RB), yang dulu lebih familier dengan istilah “Surat rantai Bahagia” (surat RB)

Sms RB, ataupun email RB, pada prinsipnya sama saja dengan surat rantai bahagia, hanya ganti nama saja berhubung ganti medianya.
Biasanya berisi pesan tertentu dengan instruksi untuk kemudian disebarluaskan pada sejumlah orang/alamat tertentu (jumlahnya sudah ditentukan), dan di embel-embeli dengan “ancaman” atau sesuatu resiko (baca: akibat) yang akan kita alami apabila kita tidak melaksanakannya sesuai instruksi pada surat tersebut.

Dalam perkembangannya surat rantai bahagia kemudian tampil dalam bentuk yang bervariasi, ada yang bermuatan pesan-pesan Islami berasal dari Timur Tengah dan kononnya merupakan fatwa dari seorang syech tertentu,dst…., ada juga yang sifatnya umum tidak menyangkut atau mengatasnamakan agama tertentu.
Lebih dari itu sang pengirimpun makin kreatif saja…surat sejenis ini berkembang menjadi “arisan rantai bahagia”.

Sedikit agak berbeda untuk bentuk arisan ini. Penerima tidak mendapat ancaman melainkan menerima “iming-iming” akan memperoleh keuntungan besar bila melaksanakan sesuai instuksi dalam surat. Tapi instruksinya bukan sekedar untuk menyebarluaskan atau meneruskan isi surat, melainkan harus disertai dengan sejumlah dana tertentu meskipun nilai nominalnya mungkin sangat kecil sekali misalnya seribu rupiah per alamat, lengkap dengan lampiran atau copy tanda bukti kirim / struk transfernya. Pada arisan berantai ini dilengkapi juga dengan cara berhitung matematis bagaimana sang penerima akan dapat meraih keuntungan dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah yang cukup fantastis.

Apapun namanya,selalu ada “resiko” yang menyertai. Pada bentuk surat RB sang penerima harus merogoh kocek untuk biaya perangko sejumlah sedikitnya 25 alamat misalnya. Pada sms RB orang juga perlu merogoh pulsa untuk biaya sms (beruntung sekarang sms sudah agak murah bahkan ada yang gratisan), pada email RB sekurang-kurangnya orang harus mengeluarkan biaya untuk internet atau biaya warnet (kecuali yang gratisan di kantor).

Mungkin bagi sebagian orang, “resiko” yang harus dikeluarkan itu tak seberapa nilai nominalnya, tapi setidaknya kita perlu tahu bagaimana menyikapinya secara bijak.

Dalam hemat saya, apapun namanya intinya tetaplah sama saja. Cukup dibaca dan selanjutnya terserah anda!!!
Mau langsung di delete pun tidak akan jadi masalah, mau di save untuk kenang-kenangan juga no problem. Masalahnya mungkin harus diteruskan sesuai instruksi apa tidak?????
Pada prinsipnya instruksi apapun bila disertai dengan “ancaman” tentunya tidak akan “mengena” di hati, dan sesuatu yang tidak “sreg”atau ragu-ragu sebaiknya tidak kita lakukan.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.(QS 2:147)

Instruksi “Doa” misalnya yang harus kita teruskan pada 10 atau 20 orang. Doa sebagaimana kita ketahui jalurnya adalah vertical dan horizontal, kita bebas melaksanakan kapan saja semau kita dan sebanyak yang kita mau dan kita mampu, tidak harus dibatasi dalam jumlah nominal tertentu, seperti saat kita harus mengamalkan wirid misalnya, kita tidak harus terpatok pada angka tertentu harus 100 kali atau 1000 kali.

Jadi,
kalau “pesan” itu merupakan pesan yang baik bisa kita ambil manfaatnya, sedangkan pelaksanaannya terserah kita (sesuai kemampuan masing-masing).
Karena, siapapun sang pembuat/pengirim surat tersebut tidak ada kuasa untuk mengatur pelaksanaan ibadah kita.
Misalnya kita mau membaca do’a, sebanyak 10 kali, atau 50 kali atau 1000 kali pun itu terserah kita atau kita ingin menyampaikan suatu doa tertentu kepada orang lain melalui media apapun, juga tidak perlu dibatasi dengan jumlah angka tertentu.

Btw….kalau hanya di forward ke 10 orang saja berarti kita justru tidak mengamalkan doa itu. Bukankah akan lebih efektif jika doa tersebut kita laksanakan dari pada hanya sekedar di forward?

Lalu bagaimana dengan “ancaman” bila kita tidak melaksanakan instruksi dalam surat itu? Benarkah akan terjadi “sesuatu” (baca: kemalangan, malapetaka, kesialan,dsb) perlukah kita merasa khawatir?
Benarkah ada orang yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi dalam hidup kita? Perlukah kita percaya para ramalan dari sesorang yang bahkan tidak kita kenal?
Masih adakah keraguan atas ayat berikut ini:

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar (QS 2:9)

Wassalam.
06032010
Upang Pattisahusiwa

sms berantai1

SMS berantai...(1)


“SMS berantai…” (1)

Semua orang sissodi yang menerima sms dari basudarao meskipun tanpa instruksi untuk menyebarluaskannya, dengan sendirinya dan mungkin secara reflek akan meneruskan berita yang diterimanya ke basudara yang lain.
Sejauh ini sms masih tetap menjadi sarana paling effektif di kalangan kita, karena mudah (cukup dengan memforward) dan murah meriah bahkan ada yang gratis…..sehingga dalam waktu singkat semua warga sissodi sudah menerima berita tsb.

Komunikasi via sms yang demikian bukan suatu hal baru terutama bagi warga sissodi di rantau, kebanyakan selama ini banyak berisi berita pernikahan dan berita kematian.
Sms kemarin malam agak berbeda….sehingga saya sendiri merasa perlu melakukan cek & ricek (bukan acara infotainment di RCTI lho…) dan konfirmasi (jangan-jangan sejenis April Mop), bukan hanya itu, tidak lama kemudian sayapun menerima konfirmasi dari basudara lainnya.

Wah….rupanya sms kali ini mampu membuat “geger” warga sissodi. Saya bayangkan penerima sms ini pasti reaksinya macam-macam, ada yang bertanya-tanya dalam hati kemudian berfikir keras, ada yang ragu-ragu,ada yang menerima begitu saja, dan…mungkin ada juga yang acuh-tak acuh alias cuek saja....
Jadi bagaimana kita menyikapinya???

“Berita” seperti yang tertuang dalam sms tsb, bukanlah hal baru, di amanno terutama menurut para orang tua dulu peristiwa sejenis ini bahkan sering sekali terjadi, terutama bila menyangkut hal-ikhwal  yang sifatnya telah terjadi “pelanggaran” adat istiadat meskipun dilakukan tanpa sengaja atau karena ketidaktahuan kita semua.
Media penyampaian pesannya (message) melalui orang yang "kesurupan "dan biasanya berbicara menggunakan bahasa tanah padahal dalam kondisi sadar yang bersangkutan sebenarnya kurang menguasai bahasa yang telah diucapkannya itu. Para orang tua dahulu “menterjemahkan” hal yang demikian itu sebagai teguran atau peringatan dari para moyang terdahulu supaya hal yang sama tidak terjadi/terulang lagi.

Sms seperti yang kita terima baru-baru ini diakui atau tidak mungkin bisa dianggap cukup "meresahkan" dan membuat semua orang bingung akan kebenarannya. Jika memang benar harus demikian mungkin sebaiknya Upu aiyao mengetahui, atau sms dikirim langsung dari bapak raja sehingga tak ada keraguan bagi yang menerimanya.

Bukan masalah untuk menjalankan himbauan tsb, kita bisa berpuasa kapan saja kita mau. sebagai muslim selama ini kita mengenal puasa ramadhan, puasa senin-kamis, puasa Daud, puasa sebagai rasa syukur,dsb. Tapi rasanya baru kali ini ada ajakan untuk puasa hari minggu. Jikalau kita boleh “mengkritisinya” setidaknya akan muncul pertanyaan “ada apa dengan hari minggu?”.

Selain dari itu, saya sendiri masih kurang faham dengan istilah “peta” yang dimaksud, apakah sama pengertiannya dengan peta=map yaitu gambar suatu lokasi/wilayah tertentu di permukaan bumi seperti “peta wilayah, peta geologi, peta topografi, dsb?”. Beberapa peta yang saya sebutkan itu medianya menggunakan kertas. Jadi tidak mungkin retak atau runtuh paling-paling sobek,lapuk, dan rusak total.

Kemudian perhatian saya beralih ke “Elhau”. Saya jadi ingat beberapa waktu yang lalu pernah mimpi melihat dinding elhau berlubang…. Apakah ada hubungannya dengan sms ini? Wallahu ‘alam…
Tapi….ada apa dengan elhau sebenarnya? Apakah ada sesuatu yang kurang tepat atau mungkin dianggap “salah” untuk sesuatu yang berhubungan dengan elhau? Pembangunan jalan menuju ke sanakah? Atau pembangunan mental spirituil masyarakat sekitarnyakah? berkurangnya nilai religius(nafas Islami) masyarakatnyakah? dsb…dsb….berbagai pertanyaan berseliweran melintas dalam pikiran…namun saya belum menemukan kesimpulan apa-apa.


Mungkin ada baiknya kita kembali pada ayat berikut ini:

(mohon maaf karena keterbatasan font, bagian ini error jadi beta delete )

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)". Surah Al An'aam 59

Terhadap yang gaib kita tetap wajib percaya, namun kebenaran tertinggi dan tidak ada yang menyamai hanya milik Allah swt semata Al-Haqqu Ya’alu ‘ala yu’la ‘alay

Jadi… semua berpulang pada diri kita masing-masing, dengan bertanya pada hati nurani untuk mencapai kebenaran yang hakiki.

Bandung, 9 April 2008
(Upang Pattisahusiwa)

atawa se aksidegor 2010

Atawa se acara Aksi Degor
(Ahad, 4 Maret 2010)


Hari Rabu siang beta ditelpon oleh saudaraku Bung Abdullah Salatalohy (Abu lohi) di Jakarta yang mengabarkan bahwa akan diadakan acara Aksi Degor yang kebetulan bertempat tidak jauh dari rumah tinggalnya. Secara tidak langsung ia bermaksud mengundang sekiranya beta berkesempatan untuk hadir di acara tersebut, meskipun sebenarnya beta bukanlah anggota aksi Degor mengingat bahwa secara yuridis formil beta berdomisili bukan di kawasan Depok atau Bogor melainkan di Bandung.

Masih pada hari yang sama tapi pada jam yang berbeda, Bung Norman Tuhepali (Man) selaku pengurus (sekretaris) juga menelpon beta dengan maksud dan tujuan yang sama.
Beta tidak yakin apakah bisa ikut hadir pada acara tersebut atau tidak karena acara masih sekitar empat hari lagi, kebetulan tepat pada hari yang sama sudah teken kontrak deng maitua untuk membantu menyelesaikan pekerjaan yang deadlinenya adalah tepat hari Minggu bersamaan dengan jam acara aksi Degor. Tapi dorongan hati untuk bisa berkumpul dengan basudarao di aksi Degor ternyata sulit di tawarkan, akhirnya beta coba kompromi ambil win-win solution, dengan mempercepat bagian job membantu maitua dan sesudahnya beta langsung pergi memenuhi undangan.
Aksi Degor............................................. I’m coming !!!

Perjalanan menggunakan bus patas eksekutif Ac jurusan Depok/Jakarta terasa lari dengan kecepatan maksimal. Beta sadar waktu keberangkatan agak telat gara-gara tugas par maitua meskipun sudah curi-curi waktu sejak subuh. Sampai beta pergi sebenarnya pekerjaan belum kelar tapi sudah dipastikan beta pung maitua bisa menyelesaikannya sendiri karena yang berat-berat sudah ditangani. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya Bung Abu lohi menelpon untuk memantau perjalanan beta, sungguh ini sangat menyentuh dan beta rasa saluuuut sekali, dengan kepeduliannya yang super maksimal.

Beta langsung turun secepatnya begitu bus masuk terminal, kemudian sambung angkot menuju Citayam. Olala….macet tak bisa dihindari, via telp Abu katakan lebih baik ganti naik ojek saja supaya bisa wushh…..wussh….wushh… karena waktu sudah mepet. Tanpa buang waktu akhirnya Ojeklah yang mengantar beta lebih cepat sampai di rumahnya tepat pada tengah hari. Langsung disambut dengan makan siang ini bagai pepatah pucuk dicinta ulam tiba karena yang mereka hidangkan sangat tepat buat perut yang ngos-ngosan karena keroncongan….and stress sepanjang jalan. Inaaaeee……. terimaksih banyak Caca (ny Abu Lohi ) untuk makan siangnya. Selesai makan, kehormatan berikutnya adalah kunci motor yang baru alias masih gress !!! Alamak….dong dua (Abu & Ny) pakai motor lama sedangkan beta disuruh pake motor baru, Ahaa..haaeee….rejeki memang tidak kemana ….apalagi ditambah penumpang seorang gadis cantik yang imut……….Amel Salatalohy (bungsunya).

Sampai di tempat acara, tepat beberapa menit menjelang jam dua siang, untung ada Amel…si cantik yang sekaligus navigator perjalanan, jadi tidak ada acara nyasar. Acara dimulai tepat sesuai rencana yang tertulis di undangan. Soal ketepatan waktu kumpul-kumpul begini aksi Degor perlu mendapat acungan jempol, karena tidak ada istilah jam karet, alhamdulillah semuanya bisa on time, good !!!

Acara dimulai tepat jam 14.00 wib, dibuka oleh sekretaris aksi Degor Bung Norman Tuhepali, seremonialnya secara umum tidak jauh beda dengan acara sejenis lainnya, tapi ada yang sangat menarik karena acara berdoa bersama ditempatkan di awal acara sebagai acara inti, sedangkan yang lainnya diposisikan sebagai pengikut atau pelengkap saja (biasanya pada acara-acara sejenis di tempat lain Doa seolah-olah hanya menjadi pelengkap saja dan di posisikan di akhir acara).

Tausyiah oleh almukarram bapak ust Jufri Toisuta (UJ-nya Sissodido) yang kemudian dilanjutkan dengan doa bersama membaca doa tahlil dan kirim Fatihah untuk kedua orang tua, keluarga, semua kerabat dan handai taulan serta untuk amanno dan segenap masyarakatnya, terasa menggiring kita pada suasana hikmat yang sakral dengan harapan mendapat Ridho Allah Swt dan berkah dari semuanya atas apa yang hendak dilakukan.
Luar biasa…..ini konsep sangat menarik dan perlu mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya, dan mungkin juga bagian inilah yang membuat para anggotanya merasa bahwa hadir di acara aksi degor adalah suatu keharusan!!

Sehubungan beta bukan anggota resmi, sebagaimana beta tulis pada judul di atas bahwa status beta “hanya” sekedar Guest atau tamu undangan (bisa juga sekaligus meliput hee..hee…) jadi beta harus sepenuhnya darling alias sadar lingkungan…tentu saja beta tidak mengikuti arisan dan beberapa acara keanggotaan inti lainnya. Beta baru merasa jadi “anggota” setelah masuk acara diskusi dan ngobrol-ngobrol dalam kemasan acara yang sangat santai. Wah…ternyata seru juga, banyak suara-suara yang masuk tidak diduga sebelumnya bakal begitu antusias dan bersemangat meskipun ada juga yang sekedar menyampaikan keprihatinannya atas beberapa hal, diantaranya tentang kabar-kabar dari Amanno, dan keberadaan organisasi Sissodido dalam naungan Basisda yang notabene seperti “hidup segan mati tak mau”.

Ada banyak pemikiran yang lahir untuk mencapai solusi terbaik terhadap status Basisda ini supaya eksistensinya jelas. Mungkin salah satu kendala bagi keberlangsungan Basisda adalah karena lokasi tempat tinggal yang berjauhan antara Jakarta timur, utara, barat, selatan, depok, bogor, tangerang, bekasi, dan mungkin merembet sampai propinsi jawa barat dan propinsi Banten.

Salah satu usulan anggota yang sangat menarik disampaikan oleh bapak Urian Tuhepali yang di amini oleh Is Tuhepali, Risani Pattisahusiwa, Abu Lohi ,Eki Sanaki, Abu Sanaki,Jufri Toisuta,Naju Toisuta dan didukung oleh bapak Gani hatala,Waci Tukan dan beberapa sesepuh lainnya, yaitu demi untuk “kelangsungan hidup” maka Basisda perlu didukung dengan sebuah sistem yang lebih profesional, dalam pengertian kalau memungkinkan dibentuk semacam cabang atau ranting per wilayah, di tiap-tiap wilayah ada pengurus tersendiri, sehingga pada saat diadakan acara (musyawarah) Basisda minimal bisa dihadiri (diwakili) oleh para pengurus dari tiap cabang. Tapi inipun tentu belum menjadi solusi final karena belum tentu pada suatu wilayah administratif terdapat sissodido dalam jumlah yang memadai untuk terbentuknya suatu organisasi.

Selebihnya suara-suara yang muncul kebanyakan sebatas pada penyampaian uneg-uneg yang diliputi keprihatinan karena kabar-kabar dari Amanno sekaligus mungkin karena desakan sebuah tanda tanya besar yang selalu mengusik tentang….…..apakah Basisda masih eksis????????

Satu lagi usulan yang patut menjadi perhatian serius adalah infentarisir warga sissodido di Jakarta dan sekitarnya, minimal ada data nama, alamat dan nomor telpon. Usulan ini cukup mendapat dukungan dari banyak pihak, tinggal teknis pelaksanaannya saja kapan dan bagaimana “sensus” akan dilaksanakan. Sambil menunggu realisasi dari ide-ide segar yang bermunculan di setiap acara yang diadakan, diharapkan basudarao khususnya yang berada di Jakarta dan sekitarnya pro aktif untuk mendaftarkan diri dengan menghubungi pengurus Aksi Degor.
Sementara kiranya hanya ini oleh-oleh hau atawa se aksi Degor.

Wassalam
Upang Pattisahusiwa

Mae...

"Mae itupa ihetu"


Entah masih ada gunanya atau tidak kita berbicara disini, karena kadang-kadang yang terdengar begitu rancu…. ada yang bilang: “jangan cuma bicara, harus ada langkah kongkret…”, yang lainnya bilang: “ bicara itu mudah, yang penting mempraktekkannya…. “, sedangkan sebagian lainnya mengatakan: “jangan hanya bicara,tapi laksanakan…”, sementara yang lain lagi mengatakan: “mari kita bicara disini, untuk membuka hati, membuka cakrawala, tukar wawasan…..siapa tahu ada solusi”, tapi ada juga yang berkata:“banyak sekali bicara, siapa dirimu? …..”. Nah loo….!!!!

Jika berbicara sudah kehilangan maknanya, dan sudah terpinggirkan nilai pentingnya, lalu apa lagi yang bisa kita bicarakan untuk disampaikan disini? Padahal berbicara adalah salah satu bentuk interaksi penting sehingga untuk keperluan itu maka terciptalah bahasa.

Memang tidak sedikit orang–orang yang menciptakan keadaan dengan terlalu “menghambur-hamburkan” pembicaraan sehingga sebagian orang merasa bosan, jenuh, muak, bahkan mungkin antipati dan kehilangan respek serta nilai pentingnya suatu pembicaraan sehingga akhirnya tidak sedikit yang kemudian menganggap berbicara menjadi tidak penting.

Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menjadi lebih penting di atas yang lainnya. Karena setiap sesuatu merupakan bagian dari sesuatu yang saling terhubung dan terkait satu sama lain seperti suatu sistem yang masing-masing komponennya mempunyai peran dan memiliki andil serta kontribusi sendiri-sendiri sehingga menjadi satu kesatuan yang penting.

Pelaksanaan atau praktek atas sesuatu tidak selamanya menjadi hal yang lebih penting dari perkataan, dan perkataan tidak selalu berhak untuk disalahkan, diremehkan dan disudutkan dengan justifikasi ide ina ihetulo amane tau iyosolo tau alias NATO (No Action Talk Only). Semua tergantung pada peruntukannya.

Disinilah tempat kita “berbicara” melalui bahasa tulisan, marilah kita bicara dalam konteks yang baik dan berusaha untuk benar, bertukar pikiran, menyampaikan pendapat, mengemukakan usulan, mengeluarkan uneg-uneg, atau sekedar sharing, atau apa sajalah, tentu saja dengan tidak mengabaikan tata aturan yang telah ada yang secara umum telah disepakati bersama.
Diantaranya yaitu tidak menyertakan nafsu yang menggelora, atau emosi yang meletup-letup, baik dalam bahasa maupun yang sengaja diungkapkan dengan menggunakan visualisasi lainnya seperti warna atau tulisan. Karena hal-hal itu semua bisa berefek kurang membangun bagi forum kita, orang yang tidak berkepentingan tentu akan malas terlibat “debat kusir” yang tanpa ujung, hal seperti itu juga akan menyulitkan kita untuk bisa memetik sesuatu, karena segala hal yang diungkapkan dengan nada-nada tinggi kadang menjadi tidak tertangkap dengan baik oleh indera kita, dan lebih dari itu , bukankah hampir kebanyakan orang lebih menyukai makanan yang mudah dicerna, menyerap sesuatu tanpa mengerutkan dahi dan memandang sesuatu yang indah (bukan yang menyilaukan) serta menikmati suasana yang teduh dan segar (bukan yang panas dan membakar).

Tidak berlebihan kiranya,karena pada umumnya begitulah kita menyambangi taidanno… sekedar untuk menghirup udara segar dan melepas lelah sambil berinteraksi menyambung silaturahmi dan bersosialisasi, syukur-syukur bisa ikut membahas masalah negeri ….....
Atau mungkin ada basudarao yang punya pandangan lain???
mae itupa ihetu… hiyehe …..

Wassalam
Upang Pattisahusiwa

tonggak

CATATAN PERJALANAN 
MELIHAT PAMERAN UPUNYORA DI JCC

by: Arkeni Pattisahusiwa

Hari Sabtu pagi sekitar jam 05.00 selepas Shalat Subuh, saya dan suami (Upang Pattisahusiwa) berkemas untuk berangkat menuju ke Jakarta menggunakan kereta api, kebetulan sudah lama saya tidak melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa kereta api, terutama sejak PT kereta api “banting harga”, karena efek adanya jalan tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) yang mampu memperpendek jarak Bandung - Jakarta menjadi cukup satu setengah jam ditempuh dengan kendaraan roda empat.
Kini dengan Rp.20.000 sudah bisa ke Jakarta menggunakan kereta api Parahyangan kelas bisnis. Kalau ingin sedikit lebih nyaman lagi dengan Rp.45.000 bisa menggunakan Kereta Api Argo Gede eksekutif.

Tujuan utama adalah ingin melihat dari dekat Pameran Produk Budaya Indonesia yang berlokasi di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan Jakarta yang diikuti oleh Upunyora( Ibu Ida Pattisahusiwa).
Rencana naik kereta jam 06.30 ternyata tidak kesampaian karena jalan menuju ke stasiun macet total oleh pasar kaget yang tumpah ke badan jalan, ini khas beberapa ruas jalan di kota Bandung saat pagi hari.
Akhirnya kami naik kereta berikutnya yang baru akan berangkat menjelang jam 09.00.
Tiba di Stasiun Gambir Jakarta sesaat sebelum Dhuhur, langsung suamiku telpon-telponan dengan Om Man Tuhepaly, karena sebelumnya sudah janjian mau bareng. Kurang lebih dua puluh menit kemudian Om Man muncul sendirian, saya kira ia akan datang bersama keluarganya,pada hal saya ingin sekali ketemu dengan isterinya, berharap ada teman ngobrol. Itu kali pertama saya ketemu dan kenal Om Man,selama ini hanya kenal dari tulisannya saja saat saya “ngintip”Ippmassi online apalagi avatarnya masih sang buah hati teruuussss, jadi tidak terbayang sama sekali.
Ternyata bos Jakarta ini luar biasa….pokoknya rasanya klop banget dech kita jalan bareng.

Langsung saja kami bertiga meluncur ke JCC di senayan menggunakan taxi, sampai di tempat tujuan sekitar setengah dua siang, Om Man traktir kita minum es buah khas lapangan Tembak Senayan yang sudah kesohor kelezatannya.
Menjelang jam dua kurang sepuluh menit, kami berjalan kaki menuju arena pameran. Rupanya pada hari itu di JCC terdapat banyak sekali tema pameran, beberapa kali kami “nyasar” masuk ruang pameran lain seperti Pameran Lingkungan Hidup Indonesia, Pameran Kerajinan Indonesia,Pameran Elektronik dan IT,dll. Akhirnya kami sampai juga di Pameran Pekan Produk Budaya Indonesia, tanpa buang waktu lagi kami langsung mencari No: 10 itulah stand Maluku dan ternyata tidak sulit karena lokasinya juga sangat strategis.

Perasaan saya sulit dilukiskan dengan kata-kata ketika sampai di stand Maluku dan ketemu dengan Upunyora. Oh ya, di Stand Maluku ini yang tertulis adalah Siri Sori Saparua Maluku Tengah, menurut penjelasan Upunyora, ini sengaja untuk mengakrabkan/ menyatukan kita dengan waal ahatido.
Semua produk Maluku yang ditawarkan hampir semuanya (mungkin 99,9%) produk asli Siri Sori Islam, buatan mama Idjah Pattisahusiwa, mama Saadiyah, mama Lun, abang Dasutti Pattisahusiwa, dan lain-lain (mohon maaf bila saya tidak bisa menyebutkan satu per satu) adapun produk makanan yang dihasilkan diantaranya adalah sagu tumbu, sagu lempeng, bagea, abon ikan, ikan asar, bubur ni, gula merah, sirop pala, dan lain-lain.

Saya mengawalinya dengan melihat-lihat semua produk yang ditawarkan, mungkin hal ini sama seperti yang dilakukan oleh para pengunjung pameran pada umumnya.
Meskipun saya menikah dengan Pattishusiwa tapi saya belum pernah sekalipun pulang ke Amanno, Jadi jujur saja bayangan saya tentang Siri Sori Islam ternyata sangat jauh berbeda dengan kenyataannya.

Saya terkagum-kagum luar biasa dengan stand Maluku yang didominasi oleh produk dari Siri Sori Islam ini, dan saya makin tertarik untuk memperhatikan semua produk secara lebih detail, saya cicipi hampir semua tester yang disediakan.
Semuanya enak…. semuanya lezat….bahkan sangat lezat!!
sebuah cita-rasa tersendiri yang tidak saya temui di tempat lain dan belum pernah saya rasakan sebelumnya.
Kalau selama ini suami saya bercerita tentang lezatnya makanan Siri sori , saya anggap itu hanya kewel saja….(heee…heee…), tapi setelah saya membuktikan sendiri ternyata memang benar, dan tentu ini bukan komentar saya pribadi, selama kurang lebih empat jam di sana, saya menyaksikan sendiri bagaimana Upunyora membuat semua pengunjung stand nya untuk makan sagu!
“ katong bikin dong samua makan sagu….” Begitu kelakar Upunyora pada kami, dan ternyata komentar semua pengunjung pameran sama dengan komentar saya,hanya ada satu kata……..mak nyoss!!!
Untuk momen ini Om Man Tuhepaly tidak melewatkannya begitu saja, dengan lincah bidikan kameranya mampu menangkap beberapa kali “action jempol” mereka!!!


Upunyora dengan dibantu oleh Non Hatalla dan Rina Pattisahusiwa
Sungguh super sibuk melayani para pengunjung stand yang sangat ramai, karena dalam pandangan saya para pengunjung umumnya seperti saya yang masih awam terhadap berbagai makanan tradisional khas Maluku yang semuanya berbahan dasar sagu.
Pertama kali saya makan sagu tumbu dan bagea asli Siri Sori Islam yaitu oleh-oleh yang dibawa ibu mertua (alm) ketika datang ke Bandung, belasan tahun yang lalu.
Kalau dulu saya sempat komplain “bagea nya kok keras sekali”, nah bagea “Salawaku Laouhata” yang saya cicipi di pameran ini benar-benar surprise buat saya, Sangat enak, Lezat, gurih dan renyah. Apalagi sagu tumbunya,selain rasanya yang mantap, kemasannyapun sangat cantik, tampilannya tidak kalah dengan coklat import.
Om Man dan suamiku juga sempat berkomentar bahwa tidak menduga sama sekali akan ketemu sagu tumbu dengan kemasan cantik yang sedemikian itu apalagi rasanya juga benar-benar sangat menggoyang lidah…..

Saya juga sempat mencicipi bubur Ni, bubur sagu pakai santan…waahh manisnya pas,ini mungkin gara-gara Gula merah made in Abang Dasutti bin Mahmudu Pattisahusiwa, karena beberapa pengunjung yang saya jumpai juga berkomentar bahwa gula merahnya seperti madu, pantas saja buburnya jadi enak sekali.
Btw …………Rahasianya apa ya… Abang Daaaatt?????

Dan,….hanya ada satu kata untuk mengomentari Abon ikan buatan Siri Sori Islam,….Emtere Naaaa…..sampai saya dan banyak pengunjung lainnya tidak mampu menahan diri untuk tidak membelinya. Sebelumnya saya pernah makan abon ikan oleh-oleh suami dari Bangka Belitung, tapi yang ini kok beda yaaa????

“Suhotu” juga ikut mejeng disini, masakan ikan berkuah kuning sejenis kari yang biasa dinikmati dengan papeda, atau kasbi rebus, tapi kali ini saya disuguhinya pakai lontong dan ditaburi emping. Saya pikir ini kari daging seperti biasa, tapi kok ueenak sekali ya???? Upunyora ini bisa azzaaaa……
sempat juga saya lihat seorang pengunjung yang kalau dilihat dari ekspressinya tidak pernah kenal sagu, tapi ternyata mampu menikmatinya….dengan lahaaaaap!.

Terakhir saya minum sirop pala….
Nah…ini cocok buat di Bandung karena berfungsi menghangatkan tubuh terutama saat cuaca dingin. Sebelumnya saya belum pernah menyantap yang namanya daging buah pala, saya jadi ingat terakhir kali makan daging buah pala belasan tahun lalu yaitu dalam bentuk manisan yang saya beli di Pasar Baru Bandung (saya tidak tahu buatan mana), itupun karena dosen saya menganjurkan sebagai salah satu bekal wajib sebelum kita berangkat mendaki gunung Tangkuban Perahu di Bandung pada tengah malam buta melalui lereng Maribaya.

Saya melihat pula tumpukan stoples cantik berisi berbagai kue kering yang biasanya bertebaran menjelang lebaran atau lebih familier dengan istilah biscuit lebaran. Bentuknya beraneka ragam, ada yang berbentuk hati warna coklat dengan hiasan kenari, ada yang berbentuk batangan agak panjang warna coklat susu, ada yang berbentuk persegi warna cream dengan tekstur kasar, dan ada pula yang berbentuk batangan kecil seperti kue keju atau kasstangel. Yang sangat menarik dan unik di sini adalah semuanya berbahan dasar sagu !!!

Mata saya tertuju pada sebuah wadah yang berisi batangan berwarna coklat…sangat artistik, ternyata itu kayu manis. Saya belum pernah menjumpai kayu manis sebesar dan sebagus ini. Banyak orang terkagum-kagum seperti saya
“ ini yang membuat Belanda tergila-gila pada Maluku…”Demikian Upunyora menjelaskan. Saya terkesan sekali dengan penjelasan Upunyora ini. Selama ini kita hanya tahu dari membaca sejarah, bahwa bangsa Eropa Khususnya Belanda sangat bernafsu untuk menguasai Maluku, sampai akhirnya menjajah Indonesia selama ratusan tahun, semua berawal dari rempah Maluku yang ternyata memang berkualitas tinggi.

Disamping pruduk-produk makanan yang digelar, di bagian sudut stand ada sebuah rak yang berisi botol-botol kecil. Saya coba melihat dari dekat ternyata botol-botol itu adalah berbagai minyak rempah produk Maluku. Mungkin karena wawasan saya yang terlalu sempit, selama ini saya hanya tahu Maluku menghasilkan minyak kayu putih saja, sungguh saya baru tahu ternyata selain minyak kayu putih, masih terdapat jenis minyak lainnya seperti,minyak cengkih, minyak sereh, minyak lawang dll.

Ikan asarnya (ikan cakalang) baru bisa kami nikmati setelah tiba di rumah.
Suami saya paling tidak sabar sehingga esok harinya selepas Sholat Subuh langsung pesan sarapan,lantas saya buatkan segelas besar kopi untuk dinikmati bersama sagu lempeng buatan mama Ijah Pattisahusiwa (Inau mantu tercinta) dilengkapi dengan ikan asar pakai colo-colo lemon cina….. ck….ck….ck….emtere kadi………
Hmmm…. Minggu pagi yang indah…(Saya biarkan saja suamiku “bernostalgia”)

Lebih dari itu semua, kedatangan kami ke stand Maluku ini membuat kami benar-benar merasa seperti pulang kampung. Sambutan Upunyora yang hangat membuat kami sangat tersentuh dan tersanjung, apalagi ditengah kesibukannya masih sempat menyambungkan kami untuk bisa berhalo-halo via telpon genggamnya dengan Upu Aiyao di Amanno.

Kerja keras dan sepak terjang Upunyora sangat mengagumkan di mata saya, bagaimana beliau dengan segenap kekuatannya selalu berusaha terus menerus untuk mengangkat harkat dan martabat negeri terutama melalui pemberdayaan kaum ibu negeri Siri Sori Islam.
sebagai anak negeri saya rasa tidak ada alasan bagi kita selain salut dan bangga, dan semoga dapat menginspirasi kita untuk terus berkarya sesuai apa yang kita bisa.
Menyambut baik hasil perbincangan kami dengan upunyora, saya jadi ada idea buat admin & crew (abang Ichan & abang Ghye) serta member lain yang tergabung di Ippmassi online, bagaimana kalau dibuatkan website tersendiri untuk produk “Salawaku Louhatta” ini?

Karena kalau orang sudah tertarik dengan makanan khas Maluku produk Siri Sori Islam dan lalu ingin memesannya, biasanya kan mereka ingin melihat-lihat dulu macam & jenisnya apa saja?
Nah, website ini bisa untuk menjembatani mereka yang ingin berbelanja. Karena produknya belum banyak beredar di toko-toko,alias masih terbatas sehingga bagi orang yang sudah jatuh cinta pasti akan mengalami kesulitan untuk mendapatkannya
(meskipun sudah bisa pesan via email,sms,atau telp)
masak sih………harus nunggu pameran ?
Kalau Bisa beli sagu via internet…..kenapa tidak???***

Bandung, 8 Juni 2008
(Arkeni Pattisahusiwa)