Minggu, 12 Januari 2020

Dari Pulakauwoni

Dari Pulakauwoni

Beberapa Sissodido berjalan beriringan menuruni Pulakauwoni menuju ke arah Huwanai masing-masing membawa “hahalanno “(pikulan) yang berisi muatan penuh dan cukup berat. Apa gerangan isinya, yang pasti tentunya perolehan dari hasil hutan yang baru di dapat dari dusunnya. Entah hasil hutan apa yang baru dipanen, kelihatannya sesuatu yang bukan tergantung pada sasi.
Semangat berjalan mereka menunjukkan rasa bangga yang membusung di dada karena bawaannya pastilah sangat dinanti dan dielu-elukan banyak orang, dan ia akan merasa lega dan bisa berpuas diri karena dalam bayangannya telah ikut berperan sebagai orang yang berjasa mengusung sesuatu yang bermanfaat bagi negerinya.
Beberapa mata tertuju ke arah mereka dengan rasa penasaran karena ingin tahu barang apa sesungguhnya yang ada di dalam pikulan mereka karena tidak terdeteksi dari kejauhan, namun tidak sedikit yang cuek beibeh tidak memberikan perhatian karena menurut anggapannya apapun barang bawaan mereka pastilah bukan hal baru yang akan membuatnya tercengang.
Perjalanan mereka sebenarnya cukup menguras tenaga karena medan yang dilalui jalannya berliku, naik turun dan terjal. Tapi medan tempuh yang demikian rupanya tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berjalan. Semangat pengabdian, semangat perjuangan, semangat pantang menyerah dan mungkin juga semangat yang muncul dengan sendirinya karena setiap ada orang yang memandangnya dengan takjub berarti spirit tersendiri baginya karena hal itu akan memacunya untuk terus melangkah menempuh perjalanan yang bagaimanapun keadaanya.
Setelah singgah sebentar di Huwanai mereka kembali meneruskan perjalanan menuju Sadewa. Agak mengherankan sebenarnya mengapa mereka menempuh perjalanan berkeliling melewati dusun-dusun yang jauh, padahal banyak jalan pintas kalau memang hendak langsung pulang. Mungkin karena ada keperluan ini dan itu yang lain atau sekedar melihat keadaan disana, atau mungkin juga mereka sedang menerapkan pepatah “ sekali dayung dua atau tiga pulau terlampaui” namun dalam konteks di daratan sehingga menjadi “sekali berjalan dua atau tiga dusun terlewati…. “.
Belum sampai di kampung, namun pada jarak yang relatif makin dekat mulai terlihat apa isi pikulan mereka, karena penasaran orang semakin berkerumun untuk melihat lebih dekat isi bawaan mereka.
O..la..la….
Apa gerangan isi pikulan mereka? Tak sulit untuk ditebak, jauh-jauh dari Pulakawoni tentunya barang bawaan mereka ya hasil terbesar dari dusun itu, yang tak lain dan tak bukan adalah lahuwollo yang berasal dari pohon nawallo alias gamutu ! (orang Jakarta bilang jadinya ga’ mutu ‘kalee…..)***Just Kidding***

Wassalam
Upang Pattisahusiwa

Adakah rahasia dibalik nama SSI ??

ADAKAH RAHASIA DI BALIK
NAMA SIRI SORI ISLAM?



Sebagai anak negeri yang dilahirkan dan dibesarkan dengan adat istiadat kuamanno ataupun yang kemudian besar di rantau orang, kemungkinan tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikiran kita, mengenai adakah rahasia dibalik nama Siri Sori Islam ? benarkah ada makna lain dibalik nama kuamanno itu? atau mungkin bahkan sebagian dari kita sependapat dengan shakespeare apa arti sebuah nama?
Kalau kita berhenti pada Shakespeare,maka tulisan inipun hanya akan berhenti sampai di sini.

Bagi William Shakespeare, boleh-boleh saja sebuah nama itu tidak ada artinya. Lain halnya bagi Muslim, sebuah nama tidak hanya berfungsi sebagai panggilan saja, tapi lebih dari itu. Nama berarti sebuah harapan baik…….
Nama telah ada sejak zaman Nabi Adam a.s.

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (Al Baqarah 31)

Benarkah kata "Siri sori” berasal dari kata “…sirri sarri…”? (dalam bahasa arab artinya rahasia yang sangat dirahasiakan) yang telah berproses dan mengalami pergeseran bunyi menjadi “siri sori”?
Jika kita berasumsi bahwa Siri Sori Islam berasal dari kata “Sirri sarri Islam” terjemahan bebasnya kemungkinan menjadi “Rahasia Islam yang tersembunyi” atau “Islam rahasia yang tersembunyi”?
Keduanya tentang rahasia, rahasia apa dan bagaimana sebenarnya yang melingkupi kita? benarkah Siri Sori Islam adalah suatu rahasia? Benarkah kita adalah bagian dari suatu  rahasia? Ataukah justru kita inilah rahasia?.

Pengertian rahasia, maknanya bisa sangat luas, mungkin tidak hanya secara fisik seperti kondisi lokasi geografisnya saja, mungkin rahasia itu juga meliputi asal-usul, kondisi sosial budaya (sosio cultural) termasuk adat istiadat dan agama masyarakatnya.

Dalam beberapa kesempatan bertemu dan berbincang dengan orang tua-tua, saya selalu mencoba bertanya barangkali ada sepenggal “kisah” yang beliau ketahui, siapa tahu bisa disambung dan di gabungkan dengan penggalan kisah-kisah lainnya.

Menurut Bapak Haji Ma’ruf Saimima, kita mempunyai sejumlah koleksi pustaka sebagai peninggalan dari tete Haji Abdul wahab Saimima atau yang lebih dikenal dengan nama tete Ambong. Jumlahnya cukup menakjubkan, yaitu sekitar 700 kitab kuno bertuliskan arab gundul yang lebih dikenal dengan kitab kuning. Kitab-kitab tersebut konon tersimpan rapi di keluarga Bapak Haji Ma’ruf Saimima di Amanno,dan selebihnya ada tersimpan pada keluarga lain (jumlahnya belum diketahui secara pasti).

Apa artinya sebuah kitab ilmu yang tersimpan rapi di lemari dan hanya menjadi pajangan bila tidak dipelajari? Kitab dengan tulisan arab gundul itu belum diketahui secara pasti ditulis dengan bahasa apa? Arab, Belanda, melayu,atau bahasa tanah?. Sayangnya pada saat ini makin sedikit dikalangan kita (mungkin bahkan nyaris tidak ada) yang mampu membaca,menterjemahkan, dan menafsirkan tulisan arab gundul.
Mungkin karena pada generasi sebelumnya sampai generasi kita sekarang ini belum ada yang benar-benar memberikan perhatian serius mengenai hal ini,sehingga “transfer budaya” terkesan agak terputus.

Kuamanno yang selama ini dikenal begitu kuat dan mempunyai kharismatik tersendiri bagi wilayah sekitarnya, mungkin memang demikianlah adanya. Kejayaan masa lalu para moyang kita dalam mempertahankan dan melindungi Amanno sejak dari jaman dulu sering kita dengar secara turun temurun dalam bentuk kisah-kisah yang kental dengan genre goib, jangankan bagi masyarakat luar yang mungkin sangat sulit untuk memahaminya, karena kita sendiripun (generasi sekarang) sulit mengerti secara akal/logika.

Seperti misalnya pada kisah tentang seorang nenek bernama Upu Napisah Patti,saat itu ia berada sendirian di daerah Wai, sekitar 4 km dari Siri Sori Islam. Tiba-tiba beberapa serdadu belanda datang untuk menangkapnya, apa yang terjadi kemudian? sepanjang malam sampai pagi hari para serdadu belanda itu tetap diam berdiri tegak tidak dapat melakukan sesuatu, seakan-akan mereka sedang tidur berdiri, sampai kemudian Upu Napisah “membangunkan” mereka….kemudian para serdadu itu meminta maaf dan mohon ampun karena mereka telah berniat buruk terhadapnya.
Sejak itu kisah tentang Upu Napisah tersebar luas sampai ketelinga para serdadu belanda lain dan warga kampung sekitarnya bahwa Siri Sori Islam sangat kuat dalam perlindungan goibnya.
Pada jaman pemerintahan Belanda kuamanno selalu menjadi incaran pihak Belanda untuk dimusnahkan, tapi Alhamdulillah Amanno terjaga dengan rapi sampai hari ini. Hal ini tentu tidak terlepas dari penjagaan para pendiri dan para leluhur kita di amanno, meskipun secara syariat mereka sudah tidak ada namun secara hakikatnya dengan seijin Allah SWT kita tetap berada di dalam pengaruh mereka, karena Segala sesuatu itu berada dalam perlindungan Allah SWT, dan atas kuasa Nya diturunkan para malaikat untuk menjaga kita yang dalam penampakannya diserupakan dengan para leluhur kita.

Tidakkah hal ini membuat kita ingin tahu dan penasaran? Amalan apakah kiranya yang mereka lakukan sehingga Allah berkenan memberikan penjagaannya yang begitu ketat terhadap amanno tua iko lolooko sampai sekarang dan semoga terus berlangsung demikian hingga akhir jaman.
Apakah sebenarnya rahasia yang tersimpan rapi dalam kitab-kitab peninggalan mereka? Adakah yang mereka telah lakukan, tapi kita belum melakukannya?

Bandung, Desember 2007
Upang Pattisahusiwa

seputar Amanno

Seputar Amanno

Kebesaran kampung di masa lalu yang menjadi kebanggaan kita di masa kini tidak pernah luput dari kritikan. Kebesaran masa lalu yang masih terkenang dan menghiasi setiap kalbu anak negeri mestinya bukan sesuatu yang perlu dikritisi bahkan dirisaukan sedemikian rupa, Itu adalah mindset, sebagaimana setiap bangsa lain di dunia yang selalu merasa sebagai bagian dari suatu bangsa yang besar.

Kritikan terus mengalir dari sana-sini dari waktu kewaktu tetapi kebanggaan itu ternyata tidak pernah surut langkah dari dalam benak setiap anak negeri, kalaupun kritikan itu menghasilkan dampak mungkin hanya sebatas secara lahiriah akan surut intensitasnya, akibat orang menjadi takut, tidak percaya diri dan malu atau khawatir kalau akan dianggap rendah atau nyata-nyata akan direndahkan apabila selalu mengungkap akan kebanggaannya. Padahal diam-diam semua mengakui, mengagumi, dan benar-benar bangga akan kebesaran negerinya. Itu menunjukkan bahwa kebesaran masa lalu sungguh suatu kebesaran mengagumkan yang terukir di atas batu pualam berkualitas tinggi dan tidak lekang oleh jaman. Bagaikan bintang di langit nun jauh disana mungkin materinya sudah tidak ada karena telah lama musnah, namun cahayanya masih tampak dari tempat kita memandang. Kalau saja kebesaran itu hanya terukir di pasir pantai, tentu sudah sejak lama tersapu ombak dan hilang ditelan jaman.

Dampak lain dari kritikan itu lama kelamaan orang akan menyembunyikan kebanggaannya mengenai kebesaran negeri supaya dianggap bisa berdiri sama tinggi dengan orang-orang pandai. Pada turunan kesekian dapat dibayangkan kebesaran itu akan benar-benar sirna dari peredaran, dan atas dasar rasionalitas gaungnya tidak akan terdengar lagi……

Kebanggaan muncul bukan sebagai doktrin, bukan juga sebagai kewajiban. Secara langsung atau tidak kebanggaan muncul dengan sendirinya karena proses pembelajaran yang tidak pernah selesai dari waktu ke waktu melalui transfer pengetahuan dan transfer budaya dari satu generasi ke generasi. Proses pembelajaran yang tidak pernah selesai itulah yang disebut kehidupan, dan bagi jiwa-jiwa yang telah “terbukakan” pasti akan ada makna yang bisa ditangkap untuk dipejari bagi perbaikan kualitas hidupnya. Proses itu terus berlangsung secara alamiah jadi rasanya menjadi kurang bijak kalau kita mengkritisi dengan membandingkan pencapaian-pencapaian yang telah diperoleh menggunakan tolok ukur material pengetahuan yang terkotak-kotak seperti sekarang ini

Kebesaran itu bukan hanya milik masa lampau. Kebesaran itu adalah “marathon”, jangka panjang, meliputi semua hal yang kecil maupun yang besar. Kita semua adalah bagian dari kebesaran itu sendiri. Sepanjang perjalanannya negeri tetap dalam kebesarannya yang kharismatik sampai sekarang, karena terjaga dan terlindungi oleh pagar dan benteng-benteng yang kokoh mahakarya para pendahulu kita. Kebanggaan adalah wujud dari rasa syukur. Tanpa ada rasa syukur kita menjadi tidak tahu kapan saatnya “berterimakasih”.

Bandung, Des 2009
Upang Pattisahusiwa

Amanno sekarang

Amanno Sekarang (2009)



Ini dia foto Amanno sekarang,
dibuat sekitar pertengahan tahun 2009, diperkirakan sekitar beberapa puluh t
ahun kemudian setelah foto lama dibuat.

Perubahan sangat kontras terlihat dari rimbunnya pohon-pohon besar yang tumbuh di halaman rumah Upu Aiyao yang pada tampilan foto lama masih berupa tanah lapang, Namun hal utama yang nyaris tidak mengalami perubahan juga tampak jelas dalam lay out badan jalan yang lurus dan menggunakan pola persegi seperti lay out tata pemukiman terencana pada masa sekarang. Tampaknya sejak jaman dulu pembangunan negeri sudah dirancang sedemikian rupa menggunakan dasar-dasar ilmu yang bahkan mungkin pada saat itu belum muncul istilah seperti ilmu tata kota dan atau tata pedesaan .

Biasanya perkambungan lama tradisional terbentuk tanpa suatu pola tertentu, pemukiman penduduk tersebar secara acak, umumnya rumah-rumah menghadap arah tertentu dengan orientasi pada arah mata angin, sungai, atau laut. Sangat jarang dijumpai pada pemukiman penduduk tradisional yang berorientasi ke jalan raya.
Apa yang terlihat di negeri SSI ini, tidak seperti itu, pendek kata bisa dikatakan bahwa negeri tua itu di bangun berlandaskan perencanaan modern, justru pada saat istilah modern itu sendiri belum muncul.
Luar biasa.....

Amanno tempo doeloe

AMANNO TEMPO DOELOE


Inilah foto Amanno tempo doeloe, diperkirakan foto ini dibuat jauh sebelum tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia 1945.
Informasi yang diberikan sebagai penyerta foto ini sangat sedikit, tahunnyapun cukup "meragukan" bagi penduduk negeri yang sangat mengenal keadaan negerinya, tapi untuk menguraikan "hasil" identifikasi foto tanpa "dasar" juga akan terkesan gegabah.
Karena itu foto masa kini (2008) sedang sangat dinantikan karena dimungkinkan "misteri" tahun pembuatan foto ini bisa  terbaca dengan foto keadaan masa kini.

(Diperkirakan foto ini dibuat antara 1898 - 1928)



Tabea2

T A B E A.....AA.....(2)


SEI ILE IULIYA NI ULUTOTU LE ILENIA NI SALAMAT
BARANG SIAPA YANG SELALU BERSAMA ATAU SELALU INGAT PADA KETURUNANNYA INSYA ALLAH DIA AKAN SELAMAT

Surah Ali 'Imran 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
SOPAMENA
WATTIHELU
SALLATALOHI
SAIMIMA
PATTISAHUSIWA
PIKALOUHATA
SANAKI
TEPASIWA
SOPAHELUWAKAN
PATTY
PAHAPULUA
TUHEPALY
KAPLALE
POLHAUPESSY
PELUPESSY
TOISUTA
MATUSEYA
SAHUPALA
HATALA
PATIIHA
HOLLE
MASAHEDUPIKAL
TOEKAN
SOO
LAWHATTA

Bandung, Juni 20008
Upang Pattisahusiwa

Trah

TRAH

Trah atau sil-silah keturunan kini sedang ngetrend hampir di semua lapisan masyarakat, seolah-olah kini orang baru "sadar" perlunya menjalin tali silaturahmi dan untuk itu mulai tumbuh semangat untuk menyelusuri "pohon" keturunanannya.
Ini budaya baru yang semakin marak untuk mengisi acara mudik lebaran. Awalnya mungkin memang sengaja "memberdayakan"mudik secara lebih organisatoris dan terkoordinasi. Akhirnya makin kokohlah upaya untuk melestarikan mudik lebaran karena pentingnya acara kumpul basudara dalam arti yang sebenarnya.